PERKAWINAN SIRI BAGI KEDUDUKAN ISTRI (PERNIKAHAN YANG TIDAK DICATATKAN) DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN

andang sari andang sari

Abstract


Nikah siri sama dengan nikah di bawah tangan yaitu suatu pernikahan yang tidak dicatat oleh pegawai pencatat nikah dalam hal ini oleh Kantor Urusan Agama (KUA). Nikah siri ini hanya sah secara agama saja selama dilakukan di bawah tangan, tetapi tidak sah menurut hukum negara. Nikah siri artinya nikah sembunyi-sembunyi atau nikah diam-diam, hal tersebut berarti pula kembali melihat pada asas hukum Islam bahwa perkawinan dikatakan sah apabila perkawinan diketahui oleh pegawai pencatat nikah.Isu atau fenomena yang terjadi saat ini bahwa pernikahan siri sudah menggejala sejak lama dan prosesnya mudah, banyak perempuan diajak untuk nikah siri dengan iming-iming di beri uang, dibelikan rumah padahal faktanya tidak demikian yang pada akhirnya merugikan perempuan itu karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan menghindari zinah tanpa sepengetahuan keluarga kedua belah pihak.



Keywords


pernikahan siri, kedudukan, istri

References


Buku / Literatur

Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Indonesia Legal Center Publishing, Jakarta, 2011

Muhammad Fuad Syakir, Perkawinan Terlarang , Cendekia, Jakarta, 2002.

H. M. Abdi Koro, Perlindungan Anak di Bawah Umur (Dalam Perkawinan Usia Muda dan Perkawinan Siri), PT Alumni, Bandung, 2012.

Undang-Undang

Undang-Undang Perkawinan (UU no. 1 / 1974)

Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Jurnal / Artikel

Jurnal Ilmiah : Penegakan Hukum / volume 2 / no. 2 / Desember 2015, Fakultas Hukum Universitas Medan Area.




DOI: http://dx.doi.org/10.29406/rj.v3i2.2112

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Res Judicata