TRANSPORTASI CALON INDUK IKAN BIAWAN (Helostoma temminckii) MENGGUNAKAN SISTEM KERING DENGAN KETEBALAN MEDIA AMPAS TEBU YANG BERBEDA Transportation Of Biawan (Helostoma Temminckii) Parent Fish Parents Using A Dry System With The Thickness Of Different Ampas Cane Media

Sri Hardiyani, Hendry Yanto, Farida . Sri Hardiyani
Hendry Yanto
Farida .

Sari


Tujuan penelitian ini untuk Mempelajari pengaruh ketebalan ampas tebu yang berbeda terhadap kelangsungan hidup ikan biawan selama transpotrasi sistem kering dan untuk menentukan ketebalan ampas tebu yang optimal untuk kelangsungan hidup ikan biawan yang tinggi selama transportasi sistem kering. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan sesuai model Hanafiah (2012) dengan 4 perlakuan 3 ulangan adapun metode penelitian yang dilakukan adalah perlakuan A tidak menggunakan ampas tebu, perlakuan B ampas tebu dengan ketebalan 5 cm, perlakuan C ampas tebu dengan ketebalan 10 cm dan perlakuan D ampas tebu dengan ketebalan 15 cm. Berdasarkan hasil penelitian mengenai transportasi calon induk ikan biawan (Helostoma temminckii) menggunakan sistem kering dengan ketebalan media ampas tebu yang berbeda berpengaruh nyata terhadap masa induksi, masa sedaif dan kelangsungan hidup ikan biawan selama proses transportasi, maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan D (ampas tebu dengan ketebalan 15 cm) memberikan hasil masa induksi yang terbaik (3 menit). Hasil penelitian perlakuan C(ampas tebu dengan ketebalan 10 cm) menghasilkan masa induksi yang terbaik (6 jam 58 menit). Sedangkan perlakuan C (ampas tebu dengan ketebalan 10 cm) menghasilkan tingkat kelangsungan hidup yang terbaik (8,78 %).

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Anggraini, D. Taqwa , F.H. Dan Yulisman. 2014. Mortalitas Benih Ikan Koi (Cyprinus carpio) Pada Ketinggian Dasar Media Gabus Ampas Tebu Dan Lama Waktu Pengangkutan Yang Berbeda. Jurnal. Fakultas Pertanian. Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Sriwijaya.

Arie U. 2000. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Jakarta : Penebar Swadaya. 123 hal.Arioen, Refi. 2011. Kajian Perlakuan Awal Secara Basa dan Enzimatis untuk Menghidrolisis Ampas Tebu Menjadi Gula Reduksi. Universitas Lampung. Lampung

Berka, R. 1986. The Transportation of Life Fish. A Review. FAO of the United Nations. Roma, 52p.

Bowser P.R. 2001. Anesthetic Options for Fish. Di dalam: Recent Advances in Veterinary Anesthesia and Analgesia: Companion Animals. New York (US): International Veterinary Information Service.

Effendi, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta. 163 hal.

Evy, R. 2001. Usaha Perikanan di Indonesia. Mutiara Sumber Widya. Jakarta. 96 hlm.

Ferdiansyah, 2000. Toksisitas dan Daya Anestesi Minyak Cengkeh (Eugonol aromatic) Terhadap Benih Ikan Patin ( Pengasius hyphothalmus ). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Gunn, E. 2001. Floundering in the Foiber of Fish Anaestesia. 211. ps. Hanafiah K. A. 2010. Rancangan Percobaan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 274 hal.

Hariyanto, S. E. Pranata, F. S. Dan Aida, Y. 2008. Pemanfaatan daun kecubung ( Datura Metal L.) Sebagai Pembiusan Ikan Mas Koi (Cyprinus carpio L.) pada Saat Pengangkutan. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Heru Susanto. 1999. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya, Jakarta. 112 hal.

Jatilaksono, M. 2012. Penggunaan media purewater terhadap kelangsungan hidup ikan black ghost (Apterontus albifrons) dalam pengangkutan sistem tertutup dengan kepadatan tinggi. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. (tidak dipublikasikan).

Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya. 120 hal.

Karnila R, Edison. 2001. Pengaruh Suhu dan Waktu Pembiusan Bertahap terhadap Ketahanan Hidup Ikan Jambal Siam (Pangasius sutchi F) dalam Transportasi Sistem Kering. Jurnal Natur Indonesia III (2): 151-167.

Kurniawan, A. 2012. Transportasi Ikan Hidup. Makalah. Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi. Universitas Bangka Belitung, Bangka Belitung.

Mashudi, Ediwarman dan Maskur. 2001. Pemijahan ikan tambakan (Helostoma temmincki). Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Jambi.

Nintibaskara R Wibowo S Uji 2006. Penanganan dan transportasi Ikan Hidup untuk komsumsi. Bogor : Derpatemen Teknologi hasil perairan. Fakultas perikanan dan ilmu kelautan. Institut pertanian Bogor.

Ondara dan Sunarno. 1988. Pembenihan Ikan Jelawat. Buletin Penelitian Perikanan Darat. Bogor 4 (21) : 11-25.

Ongge, D. 2001. Studi Penggunaan Estrak Biji Karet (Hevea brasailiensis Muell. Arg)sebagai Bahan Pemingsanan dalam Transportasi Ikan Nila Gift (Oreochromis sp.) Hidup Sistem Kering. (skipsi). Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan IPB. Bogor.

Pramono. 2002. Penggunaan ekstrak Caulerpa racemosa sebagai bahan pembius pada pra transportasi ikan nila (Oreochromis niloticus) hidup [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Puslitbangkan. 1992. Teknik Pembesaran Ikan Air Tawar Secara Terkontrol. Departemen Pertanian, Badan Litbang Pertanian. Bogor.

Safitri, F., Yunianta., I. Purwanthingrum. 2013. Pengaruh penambahan patitermodifikasi pada non dairy creamer terhadap stabilitas emulsifikasi dan efisiensi sodiumcaseinate. Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 1 No. 1 p.1-14

Sagita TF, Sulmartiwi L, Rahardja BS. 2008. Penggunaan zeolit dengan dosis dan waktu pengamatan berbeda terhadap sintasan benih ikan mas (Cyprinus carpio L) dan perubahan parameter kimia air media dalam transportasi sistem tertutup. Berkala Ilmiah Perikanan. 2(3): 15-22.

Samsuri, M., M. Gozan, R. Mardias, M. Baiquni, H. Hermansyah, A. Wijanarko, B. Prasetya,dan M. Nasikin. 2007. Pemanfaatan selulosa bagas untuk produksi eta-nol melalui sakarifikasi dan fermentasi serentak dengan enzim xylanase. Makara Teknologi 11(1): 17−24.

Stoskopf, M. K. 1993. Fish Medicine. W.B Saunders Company. Mexico. Hal. 79-112.

Sufianto. 2008. Uji Transportasi Ikan Mas Koki (Carrasius auratus Linnaeus) Hidup Sistem Kering Dengan Perlakuan. Suhu dan Penurunan Konsentrasi Oksigen (tesis). Bogor: Sekolah Pasca sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Supriyono E, Budiyanti, Budiardi T. 2010. Respon fisologi benih ikan kerapu macan Epinephelus fuccoguttatus terhadap penggunaan minyak sereh dalam transportasi tertutup dengan kepadatan tinggi. Ilmu Kelautan 15(2): 103-112.

Utomo dan Krismono. 2006 “Akuakultur Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa” Kerjasama MPN dengan TAAT. Jakarta.

Wederneyer, G. A. 1996. Physiology of Fish in Intensive Culture Systems. New York: Champman and Hall.

Wibowo, S. 1993. Penerapan teknologi penanganan dan transportasi ikan hidup di Indonesia. Sub. BPPL Slipi, Jakarta. 8 hlm.

Zonneveld, N., E. A. Huisman dan J. H. Boon. 1991. prinsip-prinsip budidaya ikan. Terjemahan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 318p.




DOI: http://dx.doi.org/10.29406/jba.v2i1.1986

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Creative Commons License

The Copyright is reserved to the Jurnal Ruaya that is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License website statistics